Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Ruhani

Istighfar

Ilustrasi Imam Ahmad bin Hambal Rahimakumullah (murid Imam Syafi'i) dikenal juga sebagai Imam Hambali. Dimasa akhir hidup beliau bercerita, "Satu waktu (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tau kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak. Padahal tidak ada janji dengan orang dan tidak ada hajat." Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashrah. Beliau bercerita, "Begitu tiba di sana waktu Isya', saya ikut shalat berjamaah Isya di masjid. Hati saya merasa tenang. Kemudian saya ingin istirahat." Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, imam Ahmad hendak tidur di masjid. Tiba-tiba Marbot masjid datang menemui imam Ahmad sambil bertanya, "Kamu mau apa di sini, syaikh ?" (kata "syaikh" bisa dipakai untuk 3 panggilan, bisa untuk orang tua, orang kaya ataupun orang yang berilmu. Panggilan Syaikh di kisah ini panggilan sebagai orang tua). Marbot tidak tahu bahwa beliau adalah Imam Ahmad. Dan Imam Ahmad pun tid...

Cinta dan Selalu Cinta-Nya

Hai hati, katakan padaku, berapa banyak cinta yang mampu kau simpan? Akankah tiba waktunya di mana dirimu tak lagi mampu menerima? Atau memang sudah ketetapan-Nya bahwa untuk cinta ruangmu tak pernah memiliki batas kuantitas. Hati, aku hidup berselimutkan cinta-Nya. Setiap waktu hidupku ditemani cinta. Aku melihat cinta pada senyum ibuku. Aku melihat cinta pada teguran ayahku. Apalagi adik-adikku, aku melihat cinta di setiap rengekan dan keluh kesah mereka. Kala langkahku menelusuri jalanan yang amat panjang, aku terpukau oleh kekuatan cinta-Nya. Karena cinta, dua orang mampu mengabaikan masing-masing ego. Lihatlah! Mereka yang tengah bertengkar tetap saling menasihati dalam kebaikan. Lihatlah! Mereka sesama papa tetap saling berbagi salam dan doa di setiap penghujung malam. Lihatlah! Mereka yang berpayah dalam menjalani hidup tetap saling tersenyum dan memberi dukungan. Sumber Oh, hidup ini terasa amat penuh oleh cinta. Dalam indahnya lafadz dan lantunan An Nuur, h...

Aku Bahagia dalam Kesederhanaan

Kisahku, tak melulu berisi hingar bingar kebahagiaan. Aku juga bukan sosok flamboyan. Tak banyak orang mengenalku, begitupun aku belum mampu menjadi tauladan yang sempurna bagi banyak orang. Meski demikian, aku bersyukur atas segala anugerah yang Rabb berikan untukku. Aku yakin, kehidupan ini dan setelahnya selalu menjanjikan kebahagiaan, meski dengan bentuk yang lain. Sumber Sumber Sumber Di dalam hidup, aku mengenal sosok kedua orang tuaku. Mereka membesarkanku dalam perlakuan yang acak; ada lembut juga kasar, ada didikan juga kemarahan, ada pujian juga tamparan. Mereka tak banyak mengenalkanku pada kalimat-kalimat cinta, apalagi nasihat panjang seorang yang pandai bahasa. Mereka membesarkanku dalam kesederhanaan; sesederhana cinta orang tua kepada putrinya. Orang tuaku mengajarkanku cara bersyukur. Itulah yang paling mengakar di dalam kepalaku. Sepanjang hidup mereka tidak banyak menuntut. Apapun yang kami dapat, maka itu adalah sebuah kecukupan. Hidup ini ...

Petuah Ayah, Biasakan Sedekah, Nak!

Tetapi, tiba-tiba saya teringat apa yang ayah ajarkan, bahwa dalam kondisi sedikit apalagi banyak, bersedekah merupakan kewajiban Ilustrasi Setiap insan pasti memiliki sosok-sosok inspiratif yang berpengaruh dalam kehidupannya. Bila sebuah pertanyaan muncul, siapa sosoknya? Tanpa bermaksud menafikan peran orang lain, bagi saya jawaban itu jatuh kepada ayah. Kegigihan beliau dalam mengajarkan nilai-nilai keislaman amatlah berpengaruh. Terutama, petuah untuk senantiasa bersedekah. Ayah kerap berujar, dalam kondisi sedikit apalagi banyak harta, sedekah merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang taat. Agama yang mengajarkan demikian. Nasehat itu begitu masuk ke relung jiwa. Sedikit demi sedikit saya praktekkan di kehidupan sehari-hari. Misalnya ketika saya berusaha menahan diri untuk tidak jajan dan memilih menyisihkan kepada yang berhak. Atau, pada suatu ketika uang jajan yang diberi lebih dari kebutuhan, yang langsung terpikir adalah mengambil berapa persen terlebih ...

Terlambat...

Jika dahulu saya begitu membenci kehadirannya, kini, saya balik meratap dan bersedih atas kepergiannya. Kadang di kala sendiri, tidak terasa keluar bulir-bulir air dari kedua mata ini. Ilustrasi Entah mengapa, cinta tumbuh ketika tak lagi digenggam. Rasa sayang tetiba muncul kala apa yang dimiliki sirna tanpa sekeping sisa. Saat itu terjadi, kita hanya bisa meratap. Melamun sambil berharap ingin sekali melompat ke lembar episode di mana bisa memperbaiki semua kesalahan. Saking kuatnya terjerembab dalam palung dendam, anugerah terindah yang Ia beri pun tak sanggup memalingkan dari segala kesumat. Bahkan, saya turut Menambah sayatan yang entah sudah segelap apa, memercik api luka di hati ibu, sosok yang begitu berarti dalam hidup. Masih hangat di dalam ingatan, ketika ibu selalu membawaku pulang dari sekolah lebih awal dari jam biasanya. Saat itu saya masih mengenakan seragam merah putih. Belum mampu menafsirkan segala tindak tanduknya yang dipenuhi labirin. Yang saya...

Pahami Khitbah, Selangkah Lebih Dekat ke Pernikahan

Sumber Khitbah adalah pengutaraan maksud seorang laki-laki yang ingin menikahi seorang perempuan; atau seorang perempuan yang ingin menikahi seorang laki-laki. Diikuti penerimaan dari pihak wali perempuan terhadap maksud tersebut serta penentuan waktu prosesi akad nikah yang dilaksanakan. Prosesi khitbah pada asalnya amat sederhana dan tidak membutuhkan tata cara yang pelik dan rumit sebagaimana dalam tradisi beberapa kalangan masyarakat saat ini. ketika seorang laki-laki datang ke rumah pihak perempuan dan bertemu dengan walinya, ia menyatakan keinginan untuk memperistri perempuan yang dimaksud, maka itulah khitbah. Atau bahkan tidak perlu datang ke rumah, tetapi bertemu dengan wali perempuan di sebuah tempat, dengan pertemuan yang disengaja atau tidak disengaja, lalu ia menyatakan maksud meminang, maka itulah khitbah. Yang melakukan khitbah ini juga tidak mesti laki-laki calon pengantin itu sendiri, ia bisa mewakilkan kepada orang-orang yang bisa dipercaya, seperti bapa...

Urwah bin Zubair, Laki-Laki Penduduk Surga

“Barangsiapa yang ingin melihat laki-laki penduduk surga, maka hendaklah melihat Urwah bin Zubair.” (Abdul Malik bin Marwan) Sumber Pagi itu, matahari memancarkan benang-benang cahaya keemasan di atas Baitul Haram, menyapa ramah pelatarannya yang suci. Di Baitullah, sisa-sisa sahabat Rasulullah SAW dan tokoh-tokoh tabi’in tengah mengharumkan suasana dengan lantunan tahlil dan takbir, menyejukkan sudut-sudutnya dengan do’a-do’a yang shalih. Mereka membentuk halaqah-halaqah, berkelompok-kelompok di sekeliling Ka’bah agung yang tegak berdiri di tengah Baitul Haram dengan kemegahan dan keagungannya. Mereka memanjakan pandangan matanya dengan keindahannya yang menakjubkan dan berbagi cerita di antara mereka, tanpa senda gurau yang mengandung dosa. Di dekat rukun Yamani, duduklah empat remaja yang tampan rupawan, berasal dari keluarga yang mulia. Seakan-akan mereka adalah bagian dari perhiasan masjid, bersih pakaiannya dan menyatu hatinya. Keempat remaja itu adalah ...

Mari Berkalkulasi!

Seringnya manusia itu sangat lucu. Di satu sisi kita sibuk mengeluh, di sisi lain kita sibuk berambisi mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar dari apa yang telah dan tidak kita kerjakan. Lah, bagaimana cerita? Saya beberapa kali diingatkan oleh seorang sahabat yang bijak, kurang lebih isinya begini: “Asih, kalau kamu pikir kamu bisa mendapatkan kenikmatan yang sangat besar, atau bilanglah saja kenikmatan itu hampir sempurna, maka ketahuilan pemikiranmu itu sia-sia. Sebab berapapun kenikmatan yang kamu banggakan di dunia, secuilpun itu tidak akan sebanding dengan kenikmatan surga.” Sumber Gambar Kalau direnungkan lagi, memang kalimat tersebut ada benarnya. Kerap kali setelah mengerjakan satu hal, hati ini enggan mendapatkan kepuasan. Dahulu saya begitu terkagum-kagum ketika bisa melaksanakan tahajjud bersama kawan-kawan saya di SMA. Itupun sebetulnya berawal dari tuntutan aturan sekolah, sebab di SMA saya yang merupakan boarding school secara rutin diadakan ...