Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Catatan Pribadi

Jilbab

Dua tahun lalu, saya pernah melalui serangkaian tes penerimaan karyawan di salah satu klinik kecantikan terbesar di Indonesia dengan posisi Supervisor Cabang. Pada saat itu saya sudah mencapai tahap akhir, yaitu wawancara dengan bagian HRD. Pada saat wawancara, semua berjalan dengan sangat lancar. Semua topik mampu saya jawab dan saya merasa bahwa jawaban yang saya berikan cukup memuaskan. Namun, tiba di topik akhir, pewawancara menanyakan apakah saya bersedia melepas jilbab. Sebab di klinik tersebut supervisor tidak diperkenankan memakai jilbab. Tentu jawaban saya tidak lain dan tidak bukan adalah sangat keberatan, sebab jilbab merupakan prinsip bagi saya. Muslimah itu wajib berjilbab. Terlepas dari syarat tersebut, saya memberikan sebuah opini kepada pewawancara. Saya katakan, klinik muslimah kedepannya memiliki potensi berkembang yang sangat besar. Hal ini terlihat dari populernya produk kecantikan yang dikhususkan untuk muslimah, baik itu skincare maupun make up. Dan terbukti, be...

Qadar-Nya

Tengah malam Tisya terbangun. Dia gelisah karena haus. Aku langsung menyodorkannya air minum di botol, lalu menyusukannya agar dia kembali terlelap. Sambil mengerjapkan mata, baru aku tersadar bahwa lelakiku masih di sana, bersender pada dinding kamar sambil memainkan benda persegi panjangnya. "Belum bobok, By?" tanyaku. "Belum. Belum ngantuk," jawabnya. Sontak kudekati dia. Kupandangi wajahnya. "Kenapa? Ini udah malem banget, loh." Lagi, aku bertanya sambil mengingatkannya bahwa jam sudah menujuk angka 12.30 WIB. "Mimihnya udah bobok. Aku gak ada temen ngobrol. Kalau ngobrol sama Mimih kan bisa ngantuk." Aku hanya bisa tersenyum. Pelan kuajak dia merebahkan diri, mengusap rambutnya, lalu membacakannya doa sebelum tidur. Tak berselang lama terdengar suara dengkuran halusnya, dia pun terlelap. Masya Allah, lelaki ini, yang tiga tahun lalu dengan gagah berani memintaku pada kedua orang tuaku. Dia yang tak pernah kukenal se...

Di Balik Kaca

Hai, Nak, apa yang sedang kamu pandangi di luar sana? Apakah juga ingin kamu tembus kaca itu? Kamu tahu, Nak, saat kamu lahir Bunda tidak bisa langsung menyusuimu. Bunda lemah saat itu. Di kala Bunda masih bersimbah darah, kamu dibaringkan di kotak kaca. Tak lama, kamu dijauhkan dari jangkauan Bunda. Mereka bilang kondisimu belum stabil, hingga Bunda berpikir, apakah semua itu karena kesalahan Bunda? Saat kamu Bunda bawa pulang, kamu tertidur nyenyak di dalam dekapan Bunda. Bunda merasa seperti membawa harta yang amat berharga. Bunda takut kedua lengan Bunda tetiba lemah dan membuatmu terjatuh, atau malah justru terlalu kuat mendekapmu. Tidak tergambar bagaimana rasa Bunda saat itu, bahagia bercampur takut. Di kali pertama Bunda memandikanmu, kamu menjerit. Ah, apakah Bunda melakukan kesalahan? Apakah Bunda membuatmu tidak nyaman? Oh Tuhan, Bunda seketika terburu-buru menyelesaikan apa yang harus Bunda selesaikan. Bunda basuhi kamu dengan air hangat, mengolesimu sab...

Seperempat Abad

Bersyukur. Rasanya hanya satu kata itu yang dapat mewakili rasa di hati saat ini. Di usia yang menginjak 25 tahun, aku dikaruniai seorang suami yang alhamdulillaah Shalih serta anak yang mampu menyejukkan pandang. Aku merasa genap, baik dengan segala suka maupun duka di dalamnya. Setiap hari selalu ada cerita, ada tawa yang mengisi, meski kadang tangis pun mengiringi. Tapi tak apa, aku tetap bersyukur. Apapun bentuknya, semua itu karunia dari-Nya. Aku disibukkan dengan segala aktivitas rumah tangga, setiap hari, dalam 24 jam. Jika dulu aku sempat bingung memikirkan akan digunakan untuk apa waktuku, kini malah rasanya 24 jam sangat kurang haha. Memikirkan Tisya yang akhir-akhir ini sedang sulit makan, melayani dan memenuhi kebutuhan suami, hmmm aku merasa seperti dikejar-kejar waktu. Oh iya, aku belum cerita ya? Aku alhamdulillah sudah dikaruniai seorang anak yang cantik dan lucu. Dia tumbuh di rahimku persis di usia pernikahanku menginjak satu tahun. Awalnya aku mengira akan ...

To be Trusted

The more you need someone, the more you need to be trusted . Saya penggemar serial Castle. Setiap pukul 22.30 WIB channel FOX menampilkan serial tersebut dengan durasi hanya 1,5 jam. Selain jadwal tayang yang menurut saya terlampau larut (setidaknya untuk saya), tidak ada yang membuat saya kecewa dengan isi cerita apalagi sang pemeran utama. Saya suka bagaimana Nathan Fillion membuat peran Richard Castle sebagai penulis thriller begitu hidup dan anehnya membuat saya jatuh cinta, saya suka bagaimana Stana Katic membuat tampilan Kate Beckett sebagai detektif perempuan dominan begitu atraktif dan seksi (Oh, sesunggunya saya tidak nyaman mendeskripsikan perempuan dengan kata ini).  Yeah, I love everything about Castle . sumber Hingga beberapa waktu lalu, ketika serial ini memasuki season 8. Tidak seperti season lain yang didominasi oleh kasus kriminalitas, pada season ini kisah percintaan Castle dan Beckett menjadi lebih vulgar dan sedikit emosional. Misalnya, tentang B...

Move On dengan 1% Inspirasi

Halo, Moonaaaa~~~ (Gak tau manggil siapa :p) Baru saja saya beli rujak, seperti biasa isinya cuma nangka dan nanas, seperti biasa rujaknya ditaburi bumbu kacang tanpa bumbu pedas. Huuuh, mantap! Alhamdulillaah... Siang ini saya ingin ngeluh, kepada siapa entah. Ingin ngeluh tentang diri sendiri; tentang begitu malasnya saya, kurang terkoordinir dan lamban dalam menjemput inspirasi. Aaaaa bener deh kata Einstein, sukses itu berasal dari 1% inspirasi dan 99% kerja keras. Hei dude! Kerja keras saya saja masih kurang, inspirasi juga lamban terus dijemput. Oke. Cukup ngeluhnya. Sekian ratus detik lalu, bersebab seseorang menggunakan komputer saya di kantor, membuat saya nganggur dan saya enggak betah dengan ke-nganggur-an itu, saya memutuskan datang berkunjung kembali (setelah sekian abad lamanya) ke Salman Reading Corner. Asal saja saya ambil satu buku dari rak. Tada! Buku yang saya ambil ternyata karya Om Jamil Azzaini yang judulnya 'Move On'. Duh pas banget. Pas...

Monday Without You

Hai, apa kabar? Sesiang ini, bagaimana entah perut saya terasa lapar. Akhir-akhir ini pola makan saya alhamdulillaah membaik, hampir setiap hari dari pagi hingga malam saya jarang merasa kenyang (T.T) Beringsut dari kasur yang nyaman, saya buka aplikasi GO-Food dan mulai mencari kira-kira makanan apa yang bisa saya makan. Ahaha, asli bukan karena saya merasa begitu bersemangat menggunakan produk teknologi, melainkan karena begitu malasnya saya di hari Senin (yang terasa seperti masih weekend ini) untuk keluar kost. Alhasil, delivery makanan selalu menjadi pilihan terbaik. Tidak sampai setengah jam menunggu. Voila! Pesanan saya datang. Salad sayur dengan tambahan daging dan telur rebus. Jika suami saya di sini, saya yakin dia akan berdecak heran (lagi). "Makan sesuatu yang mengenyangkan dong!" katanya, kemarin lusa ketika kami berdiskusi (yang lebih mirip dua anak kecil bertengkar) akan pesan apa lewat GO-Food dan saya bersikukuh ingin memesan salad. Koleksi P...
Hubby, setiap kali aku merindukanmu. Rasanya ada yang mengganjal di kerongkongan. Ada sesuatu yang keras, yang bagaimana entah menghentak-hentak di dada dan membuat air mataku mengalir deras. Keinginan untuk menuangkan rindu begitu kuat, kedua pundakku terlalu rapuh untuk menahannya. Aku mulai menerka, mungkin inilah konsekuensi dari hubungan pernikahan yang terpisah oleh jarak. Ada batas yang begitu jelas dalam menuangkan rasa dan gelisah. Ada batas-batas untuk bertukar cerita. Ada tanggung jawab untuk saling menjaga, bahkan dari rasa sepi yang menyelesap di hati. Hubby, aku merindukanmu...

Bolehkah Aku Menunggu?

Doc Pribadi Apa yang harus kutuliskan tentangmu? Semua mengalir di dalam kepalaku, tetapi tak bisa kutuangkan satu demi satu. Dalam renungan panjang, gema suara hatiku berkata, mungkin ada baiknya tetap seperti ini. Terkadang sesuatu yang tak tertulis menjadikannya lebih memikat di dalam benak. Ya, lekat bayangmu saja sudah mampu membuatku merasa puas. Dan itu lebih dari cukup untuk membuatku jatuh terpikat. Terkadang aku tersenyum sendiri. Aku senang mengingat waktu di mana pertengkaran menjadi satu-satunya jalan bagiku menuangkan rasa terhadapmu. Bukan karena aku tega, tetapi aku takut perbincangan yang akrab akan membuatku semakin jatuh. Sedang ketakutanku mengharapkanmu lebih besar dari kapasitasku menerima sebuah kegagalan. Aku manusia, dan aku tak mau merasakan sakitnya gagal dalam cinta. Maafkan aku. Aku ingin berbagi banyak cerita denganmu, sejak detik ini, bahkan sejak ribuan detik yang telah lalu. Tetapi aku sadar di mana aku berdiri. Dan rasa ini, belum saatn...

Tentang Pola Hidup

Hai, bagaimana kabarmu? Omong-omong, sepagian ini, saya sedang menikmati potongan buah melon. Perut saya cukup lapar setelah melewati 3 putaran lapangan Saraga ITB (padahal hampir 3/4 putarannya saya jalan pelan wkwkwk). Saya sengaja menyiapkan bekal buah. Hal yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Untuk apa? Tentu saja, untuk memperbaiki pola hidup saya yang belakangan mulai sulit terkontrol (katanya). Sumber Apakah terasa ada perubahan? Haha tentu saja belum nampak signifikan. Malah selepas lari tadi, saya mengalami mual hebat. Begitu kaki menginjak gedung kayu lantai 2, sekonyong-konyong saya berlari menuju westafel. Ya, perut saya nampaknya ingin mengeluarkan seluruh isinya. Lalu perbekalan buah itu, cukup menetralisir lidah saya yang rasanya bagaimana entah. Benar ya informasi yang saya baca dari berbagai sumber? Seringnya ketika saraf mengalami tegangan, di dalam kepala mulai terasa gejolak hebat, bisa jadi itulah kondisi di mana di dalam tubuhmu sedang di...

Untitled

Sumber   Bismillah... Lillah...

Monolog Haidir (2)

Ilustrasi  Hai, bagaimana kabar angin pagi ini? Kau tahu, ketika menulis bait demi bait puisi tadi pagi, aku teringat kembali. Rasanya sudah lama ketika rasa percaya diriku hilang, berganti dengan ragu dan kecamuk yang mengkerat di dalam kepala. Aku mulai lupa bagaimana indahnya menikmati cahaya mentari pagi, apalagi suara angin yang mengendus dedaunan balkon asrama lantai 2 itu. Oh, ada apakah gerangan sebenarnya? Aku mencari setitik inspirasi di dalam tulisan. Tapi kemudian tiba-tiba kantung mataku terasa penuh. Sembari menelusuri ukiran pensil dan kertas yang kupegang, tidak terasa air mataku mengalir dan aku mulai kehilangan gairah untuk kembali menghadapkan perhatian pada puisi-puisi itu. Kesal dengan apa entah, aku merobek kertas lalu melempar pensil ke seberang jendela. Katakan padaku, bagian mana dari seluruh perjalanan yang kutempuh selama ini, yang telah membuatku linglung dengan tujuan hidupku sendiri? Benarkah perjalanannya, ataukah hatiku yang k...

Menjadi Kakak

Dalam hitungan hari, tepatnya 20 Juni nanti, usia saya menginjak 22. Genap sudah lipatan kulit saya semakin renta, pula akal yang kukuh mencoba dewasa. 22 tahun tentu bukan waktu yang sebentar, apalagi jika mengingat deret amanah peran yang Allah sematkan untuk saya. Jika saya renungkan lagi, hmmm 22 tahun ya...sudah selama itu kah saya hidup? Omong-omong, dari banyaknya peran yang Allah amanahkan, salah satu yang terberat menurut saya adalah menjadi seorang kakak. Ya, kakak bagi keempat adik-adik saya. Peran menjadi seorang pemimpin dalam dunia kecil kami. Peran yang menuntut saya menjadi seorang pendidik nan tegas, sekaligus memaksa saya memerah seluruh cinta dan kepedulian yang saya miliki. Saya masih ingat. Tahun 1998, ketika kondisi ekonomi keluarga saya mengalami gejolak klimaks. Saya duduk di bangku SD kelas 5, yang pada waktu itu sedang ranum-ranumnya mencintai dunia pendidikan. Setiap saya pulang dari sekolah, yang sengaja saya perlama demi bisa mendapatkan pelajaran...

Satu Kisah Perjuangan Cinta yang Lain

"Kita adalah musafir cinta dan kita akan bertemu di jalan," Raj, dalam film Rabb Ne Bana Di Jodi Kawan, ada banyak kisah perjalanan cinta yang terjadi di sekitar kita. Orang-orang yang tengah menempuh perjalanan itu, saya menyebutnya musafir, yaitu mereka yang kian sibuk berjalan menuju tujuan (cinta) masing-masing. Perjalanan cinta yang hakiki tentu hanya bermakna ketika didedikasikan untuk Rabb semesta alam, Sang Pemberi Cinta pula keindahan segala rasa. Namun dalam kisah kali ini, saya ingin membuatnya lebih spesifik. Cinta yang saya maksud di sini adalah tak lain cinta yang lahir dari fitrah manusiawi seorang lelaki terhadap perempuan, begitupun juga sebaliknya. Di antara para musafir mungkin ada sebagian yang berhasil mendapatkan cintanya, tentu tidak ada salahnya jika kita turut berbahagia atas rezekinya itu. Namun untuk mereka yang tertandas, tidak ada kewajiban bagi kita untuk turut berduka, dan Allah tidak memerintahkan kita bersikap demikian. Sumber ...

Selang Hadirmu Di ...

"Cinta itu menjaga, termasuk menjaga perasaannya dari perasaanmu..." Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber

Cinta dan Selalu Cinta-Nya

Hai hati, katakan padaku, berapa banyak cinta yang mampu kau simpan? Akankah tiba waktunya di mana dirimu tak lagi mampu menerima? Atau memang sudah ketetapan-Nya bahwa untuk cinta ruangmu tak pernah memiliki batas kuantitas. Hati, aku hidup berselimutkan cinta-Nya. Setiap waktu hidupku ditemani cinta. Aku melihat cinta pada senyum ibuku. Aku melihat cinta pada teguran ayahku. Apalagi adik-adikku, aku melihat cinta di setiap rengekan dan keluh kesah mereka. Kala langkahku menelusuri jalanan yang amat panjang, aku terpukau oleh kekuatan cinta-Nya. Karena cinta, dua orang mampu mengabaikan masing-masing ego. Lihatlah! Mereka yang tengah bertengkar tetap saling menasihati dalam kebaikan. Lihatlah! Mereka sesama papa tetap saling berbagi salam dan doa di setiap penghujung malam. Lihatlah! Mereka yang berpayah dalam menjalani hidup tetap saling tersenyum dan memberi dukungan. Sumber Oh, hidup ini terasa amat penuh oleh cinta. Dalam indahnya lafadz dan lantunan An Nuur, h...

Aku Bahagia dalam Kesederhanaan

Kisahku, tak melulu berisi hingar bingar kebahagiaan. Aku juga bukan sosok flamboyan. Tak banyak orang mengenalku, begitupun aku belum mampu menjadi tauladan yang sempurna bagi banyak orang. Meski demikian, aku bersyukur atas segala anugerah yang Rabb berikan untukku. Aku yakin, kehidupan ini dan setelahnya selalu menjanjikan kebahagiaan, meski dengan bentuk yang lain. Sumber Sumber Sumber Di dalam hidup, aku mengenal sosok kedua orang tuaku. Mereka membesarkanku dalam perlakuan yang acak; ada lembut juga kasar, ada didikan juga kemarahan, ada pujian juga tamparan. Mereka tak banyak mengenalkanku pada kalimat-kalimat cinta, apalagi nasihat panjang seorang yang pandai bahasa. Mereka membesarkanku dalam kesederhanaan; sesederhana cinta orang tua kepada putrinya. Orang tuaku mengajarkanku cara bersyukur. Itulah yang paling mengakar di dalam kepalaku. Sepanjang hidup mereka tidak banyak menuntut. Apapun yang kami dapat, maka itu adalah sebuah kecukupan. Hidup ini ...

Album : Momen Terakhir PBM w/ Marcel

Ukhuwah, satu kata yang menyatukan kita. Meski sering kita bertengkar dan beradu opini, tentu di baliknya ukhuwah tetaplah menjadi landasan kita bersama dalam berbagi. Benar, kadang saya merasa jenuh juga. Bagaimana tidak, setiap pekan rapat namun selalu berhadapan dengan kendala yang sama;  personel-personel yang sering datang terlambat, kerjaan yang tidak berjalan dengan baik bahkan tidak terselesaikan, satu dua orang izin meninggalkan acara, dll. Meski demikian, jika saya renungkan, tidak terdeskripsikan bagaimana rincian beraktivitas di sini membuat diri saya nyaman. Ada kalanya saya senyum-senyum sendiri, kadang tertawa, bahkan histeris mendengar celotehan aneh nan frontal dari setiap orang. Ah, terima kasih banyak, Gengs PBM :') By the way , ini momen kali terakhir hedon bareng Bapak Marcel. Setahun ke depan beliau harus berjuang di Kalimantan sana, katanya. Semangat terus ya, Cel! Semoga doa-doamu selama ini terkabul, untuk segera dipertemukan dengan si Te...

Monolog Haidir

Sumber Asih, bagaimana rasanya? Ketika hari-hari berlalu dan kau sibuk mengerutkan dahi. Banyak orang ingin berdiskusi denganmu, sedang kau sibuk menyembunyikan semua kegelisahan. Ah, aku yakin kau tidak akan menjawab, kau akan tetap diam seperti biasanya, atau mungkin juga tertawa. Asih, ada banyak hikmah Tuhanmu. Dia tebarkan semua karunia untukmu. Kau lihat, bukankah indah ketika mentari mendelik malu-malu pukul 5.30 pagi? Atau ketika kau tengadahkan telapak tangan untuk menampung air hujan, namun airnya justru terciprat ke wajahmu. Atau juga, ketika kau lambaikan pergelangan tanganmu yang terbuka ke sisi luar jendela, lalu angin sepoi menerpa dan menggelitiknya. Ayo, sedikit saja, apakah sudah kau temukan hikmah-Nya itu? Asih, ingatlah selalu ini. Allah tak pernah menempatkanmu dalam posisi yang sulit apalagi meninggalkanmu. Jika kau renungkan, kau akan tahu, betapa Dia sayang padamu. Betapa Dia mencintaimu dalam setiap eksistensi waktu bangun dan tidurmu. Rasakan, ...

Ikhtiar di Lingkungan Baru

Ada banyak cerita ketika kita menemukan teman dan lingkungan baru. Tidak selalu hal-hal yang menyenangkan, memang. Ada pula momen ketika kita kesal bahkan marah. Meski demikian, percayalah, di sana kita akan merasa menemukan kepingan puzzle hidup yang lain. Sehingga pada akhirnya, tidak ada kata yang mampu melukiskan isi hati selain berlipat syukur atas anugerah sebuah pertemuan dari-Nya. PBM, kependekan dari Pembina Bidik Misi, nama tim kami. Saya masih ingat awal mula bergabung di sana. Seorang teman yang sudah sekian lama menjadi pengurus, tiba-tiba meminta saya menjadi salah satu bagian dari tim. Waktu itu saya katakan, "Khawatir enggak amanah. Orang lain in syaa Allaah masih banyak yang punya kapabilitas lebih tinggi" Kemudian kalimat saya dibalas dengan, "Bukan soal siapa yang punya kapabilitas tinggi, Asih. Kamu diminta pegang amanah, berarti kamu yang terpilih. Tugasmu adalah ikhtiar. Itu aja." Tertohok? Ya, tentu saja. Itu adalah kalimat serupa y...