Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Kumpulan Puisi

Pupus

Senja, kulihat semburat kuning di antara ketinggian langit melapis putih yang semula terhampar di sana menutup luka di belahan hati seorang gadis membuatnya lupa bahwa ia telah merintih semalam penuh Gadis malang, ia ingin merasakan kembali waktu kala setapak kaki menjadi penanda untuk berbahagia menyungging senyum yang bagaimana entah tidak bisa ditahan jantungnya, bagai ditepuk di antara bantalan lembayung bahkan angin, mampu membuatnya tersipu dan menyembunyikan diri di antara bilik bambu Lihatlah, burung camar meliuk melintas alam membawa jauh mimpi si gadis kapan dan di mana entah camar itu berhenti tiada yang tahu Pukul 6, kala kegelapan menutup langit mata si gadis membelalak terlampau lama tertunduk, ia menyeret langkah gontainya kembali menuju luka juga rintihan malam ini sumber

Lembayung

Di balik bebatuan tanah basah oleh hujan tadi siang Semilir angin berhembus tidak terlalu kencang Cabang demi cabang pohon beradu menggelitik dedaunan Di ufuk selatan, mentari tengah singgah ke peraduan Berpasang induk burung kepakan sayapnya kuat Kalahkan kincir angin yang kini tergolek lunglai di antara bukit Rabak Di balik pohon karet, terdengar cicit demi cicit Memanggil induk burung tadi agar lekas mendekat Lembayung, warna dominan senja itu Sembunyikan beragam kehidupan juga napas kematian Ada kalanya ia terisi zikir dan lantunan doa Di waktu lain mungkin sekadar tangis anak-anak tak mengapa Lembayung, mengisi pertunjukkan wadah-wadah nafs yang kalah cepat oleh waktu Ia memutus langkah juga bahasa Lalu menundukkan layu wajah-wajah yang sempat menatap langit Terakhir menutupnya dengan sayup azan maghrib

Aku Ingin Kau

Kau, yang dulu mengisi relung hati ini Di bawah jemari langit kita saling berbagi Entah tawa atau cerita duka Bagiku denganmu, semua rasa utuh jadi satu Seiring waktu berlalu Ilalang mulai gugur, begitu pula hangatmu Renyah tawamu menjadi pusaka paling mahal Bulir tangismu apalagi, sungguh, hanya Tuhan yang tahu di mana kau teteskan itu Aku rindu kau, saudariku... Jangan berhenti mengulurkan tangan Lihatlah, aku masih tenggelam dalam dahaga Lihatlah, aku masih tersandung penuh payah Luka kita, biarkan saja ia menjelma sebagaimana mestinya Tidak usah dikorek lagi Kau dan aku telah dipaksa belajar Bukankah itu pesan Rabb yang utama? Aku hanya ingin kau Kau yang tegas mendewasakan diri Kau yang senantiasa menjaga kesucian hati Kau yang tidak akan pernah kasar kepada mereka yang belum mengerti Nasihat indah itu, kudengarkan bersamamu Adakah sedikit ingatmu terpanggil? Hanya cinta yang akan menggetarkan bibir kita Untuk bicara... Untuk bicara... Ya, mungkin i...

Hatiku Tersayat

  Sumber Sayat...Ya, hatiku tersayat Lekat mataku menatap kosong Lekat kerongkonganku tercekat Oh, Rabbi... Katakan padaku Mengapa begitu sesak dada ini? Bulir tangis, Tak kuasa aku menahannya Gigiku bergemeletuk Jemari saling meremas Perempuan... Ya, perempuan... Mereka dibesarkan dengan kasih dan sayang Dibelai dengan kelembutan seorang Ibu Juga kebijaksanaan seorang Ayah Mereka disimbahi munajat pengharapan di setiap sepertiga malam Mereka adalah tumpuan orang-orang yang membesarkan namanya Mereka kian dinanti Agar mendekatkan surga bagi sang kekasih hati Namun, lihatlah kini! Jasadnya terbujur kaku Tiada yang tersisa atasnya selain berita duka dan fitnah orang-orang terhadapnya Seorang lelaki telah menjatuhkan kehormatannya Hanya karena syahwat Hanya karena syahwat... Lihatlah... Bulir air mata mengalir dari kedua mata sang Ibu Sedang hati sang Ayah remuk sudah Oh, lelaki... Tidakkah kau malu? Ataukah memang hatimu sudah berubah jadi batu?...

Sebab Cinta

Bismillaah, akhirnya dipos juga :D Sebuah lagu, tak terlalu istimewa, tapi cukup membuat saya puas saat menyanyikannya Cinta tak pernah pergi Bertahan di dalam hatiku Menanti, menanti kau di sini Tak pernah buatku jenuh Cinta dekapi diri Rengkuh aku dalam bahagia Meski dunia terus saja tertawa Berkata kau pergi tinggalkan ku terluka Reff: Biarkan saja.... Biarkan saja.... Sedihku temui bisumu Bukan karena waktu Tak perlu tergesa Sebab cinta kan temui masanya

Bimbang

Di tengah hikmat gerimis pagi Bertabuh gendang mengalir ke hilir Sayup terlantun penembrama salam datang Untuk merpati yang tak kunjung hinggap di kelopak mayang Elok sang surya dalam angan Lukiskan lekuk tubuhmu berdiri penuha angkuh Mengangkat pongah gayamu penuh kepuasan Sedang di sini, rebas tangisku di atas kapalan Batin menimbang berteman sunyi Satu tandang mungkin tak apa Berkirim surat mungkin tak terhitung dosa Hingga angin bergemuruh menghardik daku Oh merpati, Berteman laut aku mengadu Bertenteng nyiur mengharap kabar Kegetiran dan kepiluan rasamu di seberang tanah lapang Di balik gerimis mentari runduk mengulum senyum Dalam kesunyian ia bicara “Tetaplah di sini, hingga kelopak mayang beriring tandangnya” Batin diam menimbang Mungkin ini hanya mimpi, balasku

Tidak Sekarang

Sebab yang mencintaimu tidak hanya aku, aku lebih baik memilih diam. Agar kau tidak perlu kerepotan menghindariku setiap kali bertemu. Agar aku bisa menjadi temanmu. Agar kau tidak khawatir bersamaku. Sebab yang mencintaimu tidak hanya aku, aku memilih diam. Bukan berarti aku takut. Aku hanya tidak ingin menjadi orang yang banyak bicara. Lebih baik aku bersabar terhadapmu. Aku tidak ingin kau merasa tidak nyaman berada di dekatku. Biarlah semua menjadi rahasia yang tidak seorang pun tahu. Tidak akan ada teman yang menggoda saat kita berada di tempat yang sama. Kau bisa bebas bercerita dan bermain bersama. Tanpa perlu merasa apa-apa. Tanpa perlu susah payah menghindariku hanya karena perasaanku. Tidak perlu sungkan membalas pesanku hanya karena khawatir menimbulkan sesuatu. Biarlah semua aku simpan rapi. Agar aku bisa menjadi temanmu saat ini. Dan kau bisa menghadapi hidupmu tanpa perlu memikirkan bagaimana perasaanku. Kita tetap bisa saling...

Pas Foto Tua

Kubawa kenangan lama, Menghimpitnya pada sebingkai pas foto tua Warnanya memudar ditelan usia Dan sesosok wajah pada foto itupun tak lagi muda Kuperhatikan lagi... Senyumnya lebar indah merekah Kepalanya anggun dibalut kerudung merah Kedua matanya berbinar bagai hendak bicara padaku Meski demikian, Sosok pada foto itu masih saja terus membisu Dialah Umi, Yang namanya terucap saat pertama kali kuangkat bicara Yang isak tangisnya tak pernah kulupa Yang tawanya mengisi udara Saat bahagianya hati merayu canda

Cukupkan

Bersama kebisingan didatangkan luka Berselimut, Menutup hati yang menggebu Membangkitkan rana yang dalam menohok Tepatnya berawal dari cinta, Ya, cinta dalam yang terselubung Anggun membingkai diri Hingga akhirnya kicauan burung pun tahu Bahwa ia tak lagi menyatu Bahwa waktu kan terus berlalu Sampai cinta terhapus sempurna dalam kalbu Jangan lagi, Hati menjadi pencuri Jangan lagi, Angan terasa berlari Cukupkan saja, cukup sampai di sini Biarkan angin terbangkan cinta Jauh hingga tak lagi bisa ia terpandang di pelupuk mata Sungguh, Apakah ini jalan cinta atau Engkau yang sedang murka? Sakitnya tiada tara Menusuk masuk Hingga sesak raga ini Hingga mati hati ini Ya Malik, Cukupkan sampai di sini Bebaskan diri, biar ia tak lagi dengki Kobarkan lagi masa emas sang waktu Biarkan aku meyakini Bahwa Engkau masih meridhaiku

Sejenak Melepas Resah

Kau penyejuk hati, duhai Ummi... menawarkan cinta di kala hatiku buta memberikan tetesan kasih pada dahaga di malam hari memberikan harapan di kala fajar tak lagi datang aku harus bagaimana, ummi terkasih? waktuku terbuang menahan rindu tangisku ingin mereguk harapan saat esok datang hatiku selalu resah menunggu sapa dan senyummu jiwaku pun bahkan mulai lelah dengan perantauan di negeri orang ummi, oh, ummi... bayangmu kini bagai titik semu hadir di sela-sela mimpi siang hari cukup singkat, cukup nyata untuk ditangisi kau tahu itu? sungguh, ummi, di setiap detik ini, kedua kakiku selalu ingat ke mana jalan pulang hanya saja, tolong katakan kepada Sang waktu kapan dia akan berhenti dan mengantarkanku untuk pulang?

Pernyataan Cinta

Karya : Jalaludin Rumi Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam kata, Kusimpan kasih-Mu dalam dada. Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu, Segera saja bagai duri bakarlah aku. Meskipun aku diam tenang bagai ikan, Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan Kau yang telah menutup rapat bibirku, Tariklah misaiku ke dekat-Mu. Apakah maksud-Mu? Mana kutahu? Aku hanya tahu bahwa aku siap dalam iringan ini selalu. Kukunyah lagi mamahan kepedihan mengenangmu, Bagai unta memahah biak makanannya, Dan bagai unta yang geram mulutku berbusa. Meskipun aku tinggal tersembunyi dan tidak bicara, Di hadirat Kasih aku jelas dan nyata. Aku bagai benih di bawah tanah, Aku menanti tanda musim semi. Hingga tanpa nafasku sendiri aku dapat bernafas wangi, Dan tanpa kepalaku sendiri aku dapat membelai kepala lagi.