Skip to main content

Terlambat...

Jika dahulu saya begitu membenci kehadirannya, kini, saya balik meratap dan bersedih atas kepergiannya. Kadang di kala sendiri, tidak terasa keluar bulir-bulir air dari kedua mata ini.

Ilustrasi

Entah mengapa, cinta tumbuh ketika tak lagi digenggam. Rasa sayang tetiba muncul kala apa yang dimiliki sirna tanpa sekeping sisa. Saat itu terjadi, kita hanya bisa meratap. Melamun sambil berharap ingin sekali melompat ke lembar episode di mana bisa memperbaiki semua kesalahan.

Saking kuatnya terjerembab dalam palung dendam, anugerah terindah yang Ia beri pun tak sanggup memalingkan dari segala kesumat. Bahkan, saya turut Menambah sayatan yang entah sudah segelap apa, memercik api luka di hati ibu, sosok yang begitu berarti dalam hidup.

Masih hangat di dalam ingatan, ketika ibu selalu membawaku pulang dari sekolah lebih awal dari jam biasanya. Saat itu saya masih mengenakan seragam merah putih. Belum mampu menafsirkan segala tindak tanduknya yang dipenuhi labirin. Yang saya tahu, kekinian, ketika ibu mengajak pulang lebih awal, hanya untuk menemaninya. Mengurai kesedihan atas polah kekasih hatinya.

Ayah, sosok yang seharusnya menjadi teladan yang baik, justru sebaliknya. Ia pergi setiap petang dan kembali selepas Subuh. Demi judi, warisan ibu bahkan ludes olehnya. Tidak hanya itu, ketika kalah Ayah yang kalap tak segan memukul ibu. Sedang ia hanya pasrah diperlakukan demikian. Maka setiap selesai bertikai, ibu akan menjemput saya di sekolah, ini yang menghiburnya selama perjalanan menuju rumah.

Hingga satu ketika, saya harus menerima kenyataan. Bahwa saya menjadi satu di antara sekian juta pelajar yang putus sekolah. “Nak, besok tidak usah pergi ke sekolah lagi, ya?” pinta ibu mengawali pembicaraan di satu waktu. Saya tertegun, namun tak mampu menyangkal. Beberapa detik kemudian, tak kuasa saya anggukkan kepala. Ibu tersenyum.

Benarlah, keesokan harinya ibu mendatangi wali kelas, memberitahukan bahwa saya tak lagi sekolah, mencukupkan diri belajar di rumah. Tentu saja wali kelas kaget dan meminta ibu mempertimbangkan kembali keputusannya. Namun, ibu bersikeras. Hanya meminta pengertian dari pihak sekolah dengan menyampaikan kondisi keluarga kami. Yah, apa boleh buat.

Sejak itu, hidup saya menjadi tidak karuan. Luntang-lantung di jalanan, kadang bermain dengan anak-anak tetangga di desa, atau pergi bermain jauh dari rumah. Saya tidak punya aktivitas lain, selain menghibur ibu setiap kali menangis karena ayah.

Waktu terus melipat bergerak menjadi lalu. Tiada terasa, karena terbiasa melihat tindak-tanduk Ayah di rumah, saya justru menjadi tak ada ubahnya seperti dia. Setiap hari datang ke warung judi dan menenggak minuman keras. Ibu yang begitu putus asa dengan kelakuan ayah, kini semakin hancur melihat polah anaknya. Entah apa yang saya pikirkan, saya tumbuh menjadi seseorang yang dulu saya benci.

“Nak, apa sesungguhnya salah ibu?” tanyanya sambil terisak. Saya hanya membuang muka, mencari kasur untuk merebahkan badan. Kadang saya jawab dengan membanting pintu, lalu keluyuran lagi. Astagfirullah.

Ketegaran ibu akhirnya membuat saya luluh. Deminya, saya berazam untuk berhenti main judi, air laknat pun sedikit demi sedikit saya kurangi. Selain itu, guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya bekerja di sebuah bengkel mobil sebagai montir. Saya mendapati pekerjaan itu dari seorang teman, beliau berbaik hati selain mengajarkan juga memberikan kesempatan untuk bekerja di sana.

Melihat saya yang mulai mapan, ada seorang kawan yang datang dengan penuh permohonan. Adik perempuannya hamil di luar nikah. Sambil menangis simpuh ia meminta saya untuk menikahi adiknya, ia berjanji pernikahan itu hingga sang anak lahir. Atas nama iba, saya pun mengiyakan permohonan itu.

Biiznillah, tujuh bulan selepas itu istri saya melahirkan, seorang anak perempuan yang sehat nan jelita. Bayi perempuan itu, saya namakan Fatimah, nama yang saya ambil dari sepenggal nama ibu.

Namun, pembaca, selucu apa pun Fatimah, sedikitpun, saya tidak mampu menyayanginya sebagaimana anak kandung. Saya enggan menggendong apalagi mengajaknya bermain. Setiap kali melihat wajahnya, saya teringat masa kanak-kanak, ingat bagaimana ayah memperlakukan ibu. Karena itu, kendati ia masih bayi pun, saya terbiasa meninggalkannya dan membiarkan diurus langsung oleh ibunya.

Suatu hari, saya pulang bekerja. Fatimah yang kala itu sudah mampu merangkak datang menghampiri. Mukanya yang polos terus saja tertawa ceria. Saya tidak tahan melihatnya. Ketika hidangan disajikan, tanpa tendeng eling saya colek sedikit sambal lalu mengoleskannya ke bibir Fatimah. Tentu saja ia menangis keras, sedang saya.. tersenyum puas melihatnya..

Akan tetapi titik balik kehidupan merubah 180 derajat. Setahun kemudian, Fatimah terserang demam tinggi, badannya menggigil tak henti. Kediaman dokter jauh di desa seberang. Tak tertolong, esoknya, sepulang bekerja rumah tetiba ramai oleh tetangga. Beberapa nampak menyiapkan keranda, ada juga yang berlari-lari memikul air dan bunga. Ketika saya masuk ke ruang tengah, istri saya terisak di depan gundukan berlapis kain batik.

Saya pun membuka kain pelapis tersebut. Di balik kain itu, Fatimah terlelap, tidak merasa terganggu oleh kebisingan di sekitarnya. Saya sentuh pipinya, tangannya terasa dingin. Barulah sadar apa yang terjadi. Tiba-tiba saja, saya meraung-raung keras dan memeluk tubuh dingin Fatimah dengan erat. Tepat sejak saat itu, saya benar-benar merasa kehilangannya. Jika dahulu saya begitu membenci kehadirannya, kini, saya balik meratap dan bersedih atas kepergiannya. Kadang di kala sendiri, tidak terasa keluar bulir-bulir air dari kedua mata ini.

Ya Allah, ampuni hamba, ketika amanah-Mu tak bisa kujaga dengan baik. Ketika anugerah bayi mungil itu, telah saya sia-siakan, bahkan sempat menjadikannya bahan pelampiasan kejahilan.

Syahdan, di lembar ini, sesal yang tertulis takkan mengembalikan Fatimah ke pangkuan. Namun, izinkan saya untuk sedikit berpesan. Pembaca yang budiman, betapapun pahit masa lalu tidak selayaknya kita menumpahkannya, apalagi hingga menyakiti orang-orang di sekitar kita dengan perbuatan yang keji. Sepenggal pengalaman pahit ini semoga ada sejumput hikmah yang bisa direguk. Karena saya percaya, setiap kisah, kendati pilu pasti ada (al)hikmahnya. []

*Kisah ini dimuat di Tabloid Alhikmah Edisi 116, dengan alur sebagaimana yang dikisahkan HJ kepada saya

Comments

Popular posts from this blog

Tahapan Kaderisasi

Kader berasal dari bahasa Yunani cadre yang berarti bingkai. Bila dimaknai secara lebih luas, berarti : Orang yang mampu menjalankan amanat. Orang yang memiliki kapasitas pengetahuan dan keahlian. Pemegang tongkat estafet sekaligus membingkai keberadaan dan kelangsungan suatu organisasi Kader adalah ujung tombak sekaligus tulang punggung kontinyuitas sebuah organisasi. Secara utuh kader adalah mereka yang telah tuntas dalam mengikuti seluruh pengkaderan formal, teruji dalam pengkaderan informal dan memiliki bekal melalui pengkaderan non formal. Dari mereka bukan saja diharapkan eksistensi organisasi tetap terjaga, melainkan juga diharapkan kader tetap akan membawa misi gerakan organisasi hingga paripurna. Pengakaderan berarti proses bertahap dan terus-menerus sesuai tingkatan, capaian, situasi dan kebutuhan tertentu yang memungkinkan seorang kader dapat mengembangkan potensi akal, kemampuan fisik, dan moral sosialnya. Sehingga, kader dapat membantu orang lain dan diri...

Umi

Hi :) Beberapa hari ini hati terasa sendu. Tak lain karena memikirkan sosok seorang ibu. Umi, wanita terbaik dalam hidup. Saya selalu berpikir, Ah Umi, andaikan kita bisa lebih banyak berbicara mendalam dari hati ke hati... Terkadang saya bertanya kepada Allah, apakah Umi pernah bahagia dalam hidupnya? Tak banyak senyuman indah yang bisa saya ingat dari bibir Umi. Dibanding tawanya yang tulus, saya lebih banyak mengingat momen-momen Umi menangis. Umi ini rapuh sekali, sosok yang sangat harus dibimbing. Hingga saya sering khawatir, apakah Umi mampu menjalani hidup jika Bapak dipanggil lebih dulu oleh Allah? Sebagai Ibu dan anak, seharusnya hubungan kami sangat dekat. Seharusnya kami memiliki komunikasi dan kedekatan emosi yang sangat baik. Namun yang terjadi, saya tidak bisa terlalu lama mengobrol dengan Umi. Kami terlalu berbeda, sejak dahulu. Lalu kini, perbedaan itu menjadi jurang yang sangat dalam dan lebar di antara kami. Sekian kali terjadi, semakin saya paksakan untuk terus berte...

Speech Delay

Hi :) Saya mau cerita. Sekitar Februari lalu saya dan suami membawa Musa ke Klinik Tumbuh Kembang Anak. Awalnya kami tidak terpikir untuk melakukannya, sebab perkembangan Musa menurut kami sudah sesuai dengan usia. Musa berhasil babbling di usia kurang dari satu tahun, lalu bisa mengucap kata 'Ah' (Ayah) dan 'ee' (pup) di usia kurang dari 18 bulan. Lagipula gangguan tumbuh kembang anak bukan sesuatu yang biasa di keluarga kami, sebab terbukti Tisya dan Hafshah mampu melewati semua fase dengan baik meski mereka juga bayi prematur. Yah, bisa dikatakan kami cukup denial dengan kondisi Musa saat itu. Lalu, beberapa malam sebelumnya, dua kali di malam yang berbeda Musa menangis lama hingga lebih dari 30 menit. Hal ini membuat saya sangat khawatir. Sebab Musa adalah bayi yang cenderung tenang dan mandiri saat membutuhkan sesuatu. Pun saat terbangun malam, Musa sering berinisiatif mengambil minumnya sendiri di dekat kasur lalu setelahnya kembali tertidur. Saya khawatir Musa ...