Skip to main content

Melepas Mimpi

Semakin menua saya menyadari bahwa manusia cenderung semakin berkeinginan sederhana. Atau itu hanya saya? Dahulu saya berpikir menjadi manusia dengan segudang prestasi, gaji dua dijit, punya banyak relasi, bisa sering traveling, adalah sebagian pencapaian hidup yang layak diperjuangkan. Kini, cukup dengan keheningan, sebuah buku cetak tua juga segelas kopi di pagi hari, adalah sebuah kemewahan bagi saya. Kontras sekali bukan?


Saya banyak memikirkan ini. Beberapa tahun lalu, di awal pernikahan ketika suami memaksa saya berhenti bekerja, hati saya sangat terluka. Sejujurnya, bukan karena harus merelakan diri tak berpenghasilan. Sebab saya yakin suami saya adalah lelaki yang sangat mampu menafkahi. Pun jika kurang, saya yakin dengan segenap hati bahwa dia adalah lelaki yang punya prinsip dan bertanggung jawab terhadap keluarga. Lagi pula, saya bukan wanita yang memandang uang sebagai dasar kehidupan.


Mengapa dulu saya sangat terluka dengan keputusan berhenti bekerja? Sebab suami menghajar habis-habisan ego saya. Saya adalah seorang anak yang terlahir dari keluarga tidak berada. Saya adalah satu dari sebagian sangat kecil orang-orang di kampung halaman yang mampu mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi, apalagi dengan jalur beasiswa. Begitu banyak tumpuan harapan di pundak saya. Saya terlanjur menjadi kebanggan, mengapa tidak bisa terus saja saya naikkan? Tidak cukup disitu, kemudian Tuhan takdirkan saya masuk ke keluarga terpandang dengan jabatan dan penghasilan kedua mertua mentereng. Semakin jauh rasa kompetitif itu. Saya juga ingin menjadi 'orang'.


Namun, lihatlah sekonyong-konyong diri ini dipaksa berhenti. Suami saya ternyata memiliki prinsip berbeda. Dia trauma hampir dibesarkan dan dididik oleh seorang pembantu. Sosok kecilnya membutuhkan figur Ibu di rumah, kasih sayang melimpah dari kedua orang tua, juga kenyamanan untuk banyak bercerita. Suami saya tidak ingin anak-anak kami menjalani masa kecil seperti dirinya. Dan ya, itu semua menjadi tugas saya sebagai Ibu. Suami saya? Perannya sebagai pencari nafkah menganulirnya dari prinsipnya sendiri.


Tuhan, sedikit banyak saya bersyukur bahwa saya memiliki pribadi yang pandai bermonolog. Mungkin tidak banyak yang bisa saya kerjakan, tapi semuanya matang saya masukkan dalam pemikiran. Bagi saya yang semakin tua ini, tidak penting kaki ini berpijak dimana atau perhiasan apa yang patut saya terima. Saya hanya ingin menjadi hamba Tuhan yang utuh. Sangat klise memang. Atau mungkin ini semua hasil pemikiran saya yang tengah sibuk merangkai banyak alasan, agar jiwa ini tak gamang dan bersedih hati karena ketidak-mampuan saya meraih semua.


Jujur saja, semakin saya pikirkan rasanya semakin saya menemukan jawaban. Mungkin benar pada dasarnya saya hanya manusia yang tidak memiliki banyak keinginan. Mengapa bisa demikian? Sebab pun pada saat ini mengurusi anak tiga dengan banyak keterbatasan, ternyata saya cukup nyaman. Ketika beberapa waktu lalu suami saya memberi kelonggaran jika saya ingin kembali bekerja, pun itu sambil saya pikirkan.


Tuhan, apapun takdir-Mu adalah yang terbaik. Jiwa ini dengan atau tanpa kebesaran mimpiku adalah hamba yang hanya mengharap tenang. Maka sungguh hanya kepada-Mu aku memohon, ampunilah dosa-dosaku, karuniakanlah aku rahmat, serta jadikanlah aku golongan hamba-Mu yang kelak mendapat kabar gembira.

“Rabbana amanna faghfirlana warhamna wa anta khairur-rahimin..."

Comments

Popular posts from this blog

Tahapan Kaderisasi

Kader berasal dari bahasa Yunani cadre yang berarti bingkai. Bila dimaknai secara lebih luas, berarti : Orang yang mampu menjalankan amanat. Orang yang memiliki kapasitas pengetahuan dan keahlian. Pemegang tongkat estafet sekaligus membingkai keberadaan dan kelangsungan suatu organisasi Kader adalah ujung tombak sekaligus tulang punggung kontinyuitas sebuah organisasi. Secara utuh kader adalah mereka yang telah tuntas dalam mengikuti seluruh pengkaderan formal, teruji dalam pengkaderan informal dan memiliki bekal melalui pengkaderan non formal. Dari mereka bukan saja diharapkan eksistensi organisasi tetap terjaga, melainkan juga diharapkan kader tetap akan membawa misi gerakan organisasi hingga paripurna. Pengakaderan berarti proses bertahap dan terus-menerus sesuai tingkatan, capaian, situasi dan kebutuhan tertentu yang memungkinkan seorang kader dapat mengembangkan potensi akal, kemampuan fisik, dan moral sosialnya. Sehingga, kader dapat membantu orang lain dan diri...

Umi

Hi :) Beberapa hari ini hati terasa sendu. Tak lain karena memikirkan sosok seorang ibu. Umi, wanita terbaik dalam hidup. Saya selalu berpikir, Ah Umi, andaikan kita bisa lebih banyak berbicara mendalam dari hati ke hati... Terkadang saya bertanya kepada Allah, apakah Umi pernah bahagia dalam hidupnya? Tak banyak senyuman indah yang bisa saya ingat dari bibir Umi. Dibanding tawanya yang tulus, saya lebih banyak mengingat momen-momen Umi menangis. Umi ini rapuh sekali, sosok yang sangat harus dibimbing. Hingga saya sering khawatir, apakah Umi mampu menjalani hidup jika Bapak dipanggil lebih dulu oleh Allah? Sebagai Ibu dan anak, seharusnya hubungan kami sangat dekat. Seharusnya kami memiliki komunikasi dan kedekatan emosi yang sangat baik. Namun yang terjadi, saya tidak bisa terlalu lama mengobrol dengan Umi. Kami terlalu berbeda, sejak dahulu. Lalu kini, perbedaan itu menjadi jurang yang sangat dalam dan lebar di antara kami. Sekian kali terjadi, semakin saya paksakan untuk terus berte...

Speech Delay

Hi :) Saya mau cerita. Sekitar Februari lalu saya dan suami membawa Musa ke Klinik Tumbuh Kembang Anak. Awalnya kami tidak terpikir untuk melakukannya, sebab perkembangan Musa menurut kami sudah sesuai dengan usia. Musa berhasil babbling di usia kurang dari satu tahun, lalu bisa mengucap kata 'Ah' (Ayah) dan 'ee' (pup) di usia kurang dari 18 bulan. Lagipula gangguan tumbuh kembang anak bukan sesuatu yang biasa di keluarga kami, sebab terbukti Tisya dan Hafshah mampu melewati semua fase dengan baik meski mereka juga bayi prematur. Yah, bisa dikatakan kami cukup denial dengan kondisi Musa saat itu. Lalu, beberapa malam sebelumnya, dua kali di malam yang berbeda Musa menangis lama hingga lebih dari 30 menit. Hal ini membuat saya sangat khawatir. Sebab Musa adalah bayi yang cenderung tenang dan mandiri saat membutuhkan sesuatu. Pun saat terbangun malam, Musa sering berinisiatif mengambil minumnya sendiri di dekat kasur lalu setelahnya kembali tertidur. Saya khawatir Musa ...