Skip to main content

Pengalaman Menggunakan Knowledge Management & Tantangannya

Tulisan Reza Rochadi (awak SKAU 90-an akhir)

Ilustrasi

Saya pernah bekerja dalam suatu perusahaan yang memiliki Knowledge Management yg baik. Bentuknya adalah sebuah repository pustaka konten-digital terpusat dimana best practices terhadap berbagai urusan pekerjaan dan resolusi permasalahan kerja yg selama ini berada di dalam benak para ahli/karyawan senior (tacit knowledge) sudah terdokumentasikan menjadi sangat rapih (explicit knowledge). Konten dokumentasi explicit knowledgenya bisa dalam bentuk dokumen word ataupun worksheet, presentasi siap pakai, wiki, blog, video, maupun rekaman audio.

Sistem Knowledge Management ini terkatalog dengan baik, dan konten yang diperlukan mudah dicari jika kita memerlukan pengetahuan tertentu terkait urusan pekerjaan tertentu. Sehingga kultur kerja perusahaan sudah tidak tergantung lagi pada keahlian perorangan --apalagi jika karyawan yang ahli itu dimutasi, naik jabatan, ganti profesi, pindah/keluar kerja, ataupun pensiun--, namun pengetahuan keahlian itu bisa lebih di simpan dan dapat dishare kembali. Dimana explicit knowledge yang di re-share itu sudah dalam bentuk best-practicenya, sudah bukan dalam ekperimental maupun coba-coba, namun dengan cara paling efektif dan efisien dalam melakukan suatu aktivitas pekerjaan. Ini membuat budaya sharing pengetahuan menjadi lebih terstruktur dalam suatu perusahaan dan pekerjaan bisa dilakukan lebih efektif dan efisien, meminimalisir proses trial-and-error dalam melakukan suatu aktivitas pekerjaan. Karyawan baru atau karyawan yg baru menempati posisi baru (setelah dipromosikan) bisa dengan mudah mempelajari best practices yang sudah dilakukan karyawan sebelumnya di posisi dan aktivitas pekerjaan yang sama.

Namun implementasi Knowledge Management juga memiliki tantangannya sendiri. Tantangan terbesar di Indonesia adalah kemampuan literasi mendokumentasikan tacit knowledge yg masih sangat minim, budaya kita masih banyak yang belum melek literasi walaupun mayoritas sudah pada melek huruf. Selain itu diperlukan juga kemauan karyawan untuk sharing & mendokumentasikan tacit knowledge pengalaman keahliannya yang sudah dimilikinya selama ini.

Untuk mendukung perilaku sharing dan menulis ini, organisasi perusahaan harus mengkondisikan budaya knowledge management yang kuat dalam budaya kerja, misal memberikan reward yang menarik untuk karyawan yang ahli dalam suatu bidang pekerjaan untuk sharing dan mendokumentasikan keahliannya dalam menyelesaikan suatu urusan pekerjaan. Perusahaan juga perlu disiplin untuk memelihara aset konten Knowledge Management yang dimilikinya, memastikan aset konten knowledge yang berada di dalamnya adalah versi best practices terkini yang bisa dipakai, dan merencanakan kapan konten knowledge best practices tertentu harus diarsipkan (karena sudah tak up-to-date) hingga akhirnya disposal. Untuk melakukan operasional pemeliharaan Knowledge Management ini, organisasi/perusahaan perlu berinvestasi untuk memiliki sumber daya khusus, baik itu sumber daya teknologi (dalam bentuk Enterprise Content Management tools) maupun divisi khusus untuk mengelola Knowledge Management tersebut.

Comments

Popular posts from this blog

Tahapan Kaderisasi

Kader berasal dari bahasa Yunani cadre yang berarti bingkai. Bila dimaknai secara lebih luas, berarti : Orang yang mampu menjalankan amanat. Orang yang memiliki kapasitas pengetahuan dan keahlian. Pemegang tongkat estafet sekaligus membingkai keberadaan dan kelangsungan suatu organisasi Kader adalah ujung tombak sekaligus tulang punggung kontinyuitas sebuah organisasi. Secara utuh kader adalah mereka yang telah tuntas dalam mengikuti seluruh pengkaderan formal, teruji dalam pengkaderan informal dan memiliki bekal melalui pengkaderan non formal. Dari mereka bukan saja diharapkan eksistensi organisasi tetap terjaga, melainkan juga diharapkan kader tetap akan membawa misi gerakan organisasi hingga paripurna. Pengakaderan berarti proses bertahap dan terus-menerus sesuai tingkatan, capaian, situasi dan kebutuhan tertentu yang memungkinkan seorang kader dapat mengembangkan potensi akal, kemampuan fisik, dan moral sosialnya. Sehingga, kader dapat membantu orang lain dan diri...

Umi

Hi :) Beberapa hari ini hati terasa sendu. Tak lain karena memikirkan sosok seorang ibu. Umi, wanita terbaik dalam hidup. Saya selalu berpikir, Ah Umi, andaikan kita bisa lebih banyak berbicara mendalam dari hati ke hati... Terkadang saya bertanya kepada Allah, apakah Umi pernah bahagia dalam hidupnya? Tak banyak senyuman indah yang bisa saya ingat dari bibir Umi. Dibanding tawanya yang tulus, saya lebih banyak mengingat momen-momen Umi menangis. Umi ini rapuh sekali, sosok yang sangat harus dibimbing. Hingga saya sering khawatir, apakah Umi mampu menjalani hidup jika Bapak dipanggil lebih dulu oleh Allah? Sebagai Ibu dan anak, seharusnya hubungan kami sangat dekat. Seharusnya kami memiliki komunikasi dan kedekatan emosi yang sangat baik. Namun yang terjadi, saya tidak bisa terlalu lama mengobrol dengan Umi. Kami terlalu berbeda, sejak dahulu. Lalu kini, perbedaan itu menjadi jurang yang sangat dalam dan lebar di antara kami. Sekian kali terjadi, semakin saya paksakan untuk terus berte...

Speech Delay

Hi :) Saya mau cerita. Sekitar Februari lalu saya dan suami membawa Musa ke Klinik Tumbuh Kembang Anak. Awalnya kami tidak terpikir untuk melakukannya, sebab perkembangan Musa menurut kami sudah sesuai dengan usia. Musa berhasil babbling di usia kurang dari satu tahun, lalu bisa mengucap kata 'Ah' (Ayah) dan 'ee' (pup) di usia kurang dari 18 bulan. Lagipula gangguan tumbuh kembang anak bukan sesuatu yang biasa di keluarga kami, sebab terbukti Tisya dan Hafshah mampu melewati semua fase dengan baik meski mereka juga bayi prematur. Yah, bisa dikatakan kami cukup denial dengan kondisi Musa saat itu. Lalu, beberapa malam sebelumnya, dua kali di malam yang berbeda Musa menangis lama hingga lebih dari 30 menit. Hal ini membuat saya sangat khawatir. Sebab Musa adalah bayi yang cenderung tenang dan mandiri saat membutuhkan sesuatu. Pun saat terbangun malam, Musa sering berinisiatif mengambil minumnya sendiri di dekat kasur lalu setelahnya kembali tertidur. Saya khawatir Musa ...