Skip to main content

Being Ignorance (Part 2)

Beberapa waktu lalu, saya mendapati Sahid, adik saya mengeluh karena kurangnya pasokan air di rumah. Maklum, akhir2 ini cuaca tidak menentu dan hujan pun sudah lama tidak menemani keseharian Babakan. Padahal jika diingat lagi, pasokan air di desa saya sebagian besar berasal dari sumur2 galian. Jika hujan tidak turun, maka sumur2 itu akan kering. Pun saat masih menyisakan air, biasanya air itu akan memiliki kekeruhan yang tinggi dan berbau besi.

Saya sudah melakukan browsing tentang sistem sanitasi yang baik bagi pedesaan. Sudah saya pelajari pula melalui dokumentasi dan pendataan sanitasi di Dinkes Bandung. Dari pengamatan saya, memang kekurangan yang dimiliki Babakan adalah tidak tersedianya sistem penampungan air dan pembuangan limbah; entah limbah bekas cucian, mandi, dan lain sebagainya. Hal ini menyebabkan air hujan yang deras hanya mengalir ke sungai-sungai, sedangkan sungai di desa sudah terbiasa dijadikan tempat pembuangan limbah. Yah begitulah, air jernih yang seharusnya digunakan berubah warna dan bau. Belum lagi limbah2 yang mengalir lewat selokan ternyata diam2 meresap kembali ke dalam tanah di sekitaran sumur, sehingga tak dinyana lagi bahwa air sumur tersebut akan cenderung memiliki bau dan warna yang kurang menyenangkan. Ah, rada disayangkan, bahwa segala keluhan yang kini menjangkit ternyata disebabkan kurangnya perencanaan dan pengetahuan warga akan pentingnya menjaga sanitasi.

Omong-omong, saya mulai mempelajari sistem perpolitikan kepala desa. Dari segala 'promosi' yang disampaikan melalui media (yang notabene hanya berasal dari poster, bannerflyer dan mouth to mouth method), saya kecewa karena ternyata tidak ada kegiatan directly hearing bagi warga terkait proker2 yang akan dicanangkan. Terlebih lagi, setelah menjadi kepala desa, saya tidak melihat ada sistem kontrol untuk menjamin kenyamanan, keamanan dan ketertiban. Segalanya hanya berjalan formal, hadir ketika dipanggil, berkeliling ketika ada event besar. Terkait pembagian sembako, misalnya, masih ada tindakan2 tidak pantas seperti mendistribusikannya hanya untuk kalangan tertentu, mengambil nilai komersil yang seharusnya tidak dilakukan, dan lain sebagainya. Jika dibiarkan terus, saya selalu khawatir bahwa hal ini akan menjadi budaya dan mendarah daging di generasi penerus kelak. Oh, saya harus bagaimana?

Terkadang saat ego saya mulai memuncak, saya membenci sikap primitif yang dimiliki warga desa saya. Begitu susahnya mereka menerima hal2 baru, entah terkait pengetahuan, usulan perbaikan sistem, dan lain sebagainya. Warga masih kolot dengan budaya leluhur dulu, masih merasa sok pintar dalam segala hal. Seperti 10 tahun lalu, saat sekelompok mahasiswa bermaksud mendirikan pesantren kilat di sebuah pengajian, seorang ustadzah menolak. Entah apa alasan utamanya. Herannya, ketika ada pembagian bingkisan, ustadzah tersebut hadir di barisan pertama. What are you doing? kataku dalam hati. Atau pernah juga saat seorang tetangga saya berusaha memperkenalkan Al Qur'an terjemah, bukannya disambut, justru tetangga saya tersebut dituduh sesat dan hampir dibakar oleh warga. Allaahu akbar, apakah ini?
Padahal jika diamati, warga desa Babakan termasuk kalangan yang sangat update terkait teknologi mobileGadget, kendaraan, fashion, kuliner adalah hal yang sangat lumrah dan mudah didapat. Tapi... ya begitulah, modernisasi-nya setengah2 -_-"

Sejujurnya, saya sangat ingin mengabdikan diri saya untuk kepentingan desa. Bahkan hal ini sudah saya utarakan kepada orang tua sejak 6 tahun lalu. Sayangnya, Bapak tidak pernah mengizinkan.
"Tidak semua orang mampu berkiprah di dunia politik, Sih. Berapa orang jujur sekarang? Cukuplah kamu menjadi orang cerdas, banggakan keluarga dan warga desa" begitu kata beliau.

Ah, dan lagi, air mata ini selalu tidak mampu bertahan di tempatnya. Bukan bersedih karena penolakan, melainkan bersedih karena merasa diri ini terlalu lemah bahkan untuk sekedar mengantongi kepercayaan Bapak.

Comments

Popular posts from this blog

Tahapan Kaderisasi

Kader berasal dari bahasa Yunani cadre yang berarti bingkai. Bila dimaknai secara lebih luas, berarti : Orang yang mampu menjalankan amanat. Orang yang memiliki kapasitas pengetahuan dan keahlian. Pemegang tongkat estafet sekaligus membingkai keberadaan dan kelangsungan suatu organisasi Kader adalah ujung tombak sekaligus tulang punggung kontinyuitas sebuah organisasi. Secara utuh kader adalah mereka yang telah tuntas dalam mengikuti seluruh pengkaderan formal, teruji dalam pengkaderan informal dan memiliki bekal melalui pengkaderan non formal. Dari mereka bukan saja diharapkan eksistensi organisasi tetap terjaga, melainkan juga diharapkan kader tetap akan membawa misi gerakan organisasi hingga paripurna. Pengakaderan berarti proses bertahap dan terus-menerus sesuai tingkatan, capaian, situasi dan kebutuhan tertentu yang memungkinkan seorang kader dapat mengembangkan potensi akal, kemampuan fisik, dan moral sosialnya. Sehingga, kader dapat membantu orang lain dan diri...

Umi

Hi :) Beberapa hari ini hati terasa sendu. Tak lain karena memikirkan sosok seorang ibu. Umi, wanita terbaik dalam hidup. Saya selalu berpikir, Ah Umi, andaikan kita bisa lebih banyak berbicara mendalam dari hati ke hati... Terkadang saya bertanya kepada Allah, apakah Umi pernah bahagia dalam hidupnya? Tak banyak senyuman indah yang bisa saya ingat dari bibir Umi. Dibanding tawanya yang tulus, saya lebih banyak mengingat momen-momen Umi menangis. Umi ini rapuh sekali, sosok yang sangat harus dibimbing. Hingga saya sering khawatir, apakah Umi mampu menjalani hidup jika Bapak dipanggil lebih dulu oleh Allah? Sebagai Ibu dan anak, seharusnya hubungan kami sangat dekat. Seharusnya kami memiliki komunikasi dan kedekatan emosi yang sangat baik. Namun yang terjadi, saya tidak bisa terlalu lama mengobrol dengan Umi. Kami terlalu berbeda, sejak dahulu. Lalu kini, perbedaan itu menjadi jurang yang sangat dalam dan lebar di antara kami. Sekian kali terjadi, semakin saya paksakan untuk terus berte...

Speech Delay

Hi :) Saya mau cerita. Sekitar Februari lalu saya dan suami membawa Musa ke Klinik Tumbuh Kembang Anak. Awalnya kami tidak terpikir untuk melakukannya, sebab perkembangan Musa menurut kami sudah sesuai dengan usia. Musa berhasil babbling di usia kurang dari satu tahun, lalu bisa mengucap kata 'Ah' (Ayah) dan 'ee' (pup) di usia kurang dari 18 bulan. Lagipula gangguan tumbuh kembang anak bukan sesuatu yang biasa di keluarga kami, sebab terbukti Tisya dan Hafshah mampu melewati semua fase dengan baik meski mereka juga bayi prematur. Yah, bisa dikatakan kami cukup denial dengan kondisi Musa saat itu. Lalu, beberapa malam sebelumnya, dua kali di malam yang berbeda Musa menangis lama hingga lebih dari 30 menit. Hal ini membuat saya sangat khawatir. Sebab Musa adalah bayi yang cenderung tenang dan mandiri saat membutuhkan sesuatu. Pun saat terbangun malam, Musa sering berinisiatif mengambil minumnya sendiri di dekat kasur lalu setelahnya kembali tertidur. Saya khawatir Musa ...