Skip to main content

Posts

Perawatan Kulit

Hari ini saya ingin sedikit sharing seputar perawatan kulit dan wajah. Kenapa sih sampai harus ditulis khusus di dalam blog? Seperti beauty blogger saja --" Hehehe saya sudah cukup sering mendengar orang-orang di sekitar berasumsi bahwa saya menggunakan berbagai macam produk. Atau bisa juga rutin mampir ke salon bahkan klinik kecantikan setiap periode tertentu. Jawabannya... tidak sama sekali. Saya tidak menggunakan produk apapun kecuali pelembab wajah, masker pun tidak. Ke salon? Seingat saya, hanya pernah sekali saya mencoba facial di salon muslimah, pun itu dalam rangka menjelang hari pernikahan. Dan setelah mencoba ke salon itu, hmmm saya tidak merasakan perubahan yang signifikan pada wajah saya ini. Dan, yang paling menyesakkan, harganya itu loh hhhhh... Akhirnya, bagi saya cukup sekali itu saja kunjungan saya ke salon kecantikan. Perawatan ke klinik kecantikan? Nooo... saya termasuk orang yang sangat memahami betapa susah mencari uang. Saya tidak ingin membeb...

Berbenah Lagi

Sulit rasanya beberapa hari ini. Aku termangu sendiri di bawah atap rumahku. Bukan tanpa sebab, melainkan diri yang tak kunjung beranjak dari rasa malas dan jenuh. Jika ditelaah, sebenarnya sangat banyak aktivitas yang bisa kulakukan. Sebut saja menjahit, kursus yang sudah dibayarkan penuh suamiku untuk setahun lamanya dengan harga mahal tetapi tak kunjung aku genapkan absensinya. Bisa juga bisnis; aku sudah punya cukup modal dan aset untuk berjualan, tetapi tak kunjung menemukan motivasi mencari pelanggan. Atau membuat kerajinan, sebab sudah cukup banyak kain perca juga manik-manik yang kukumpulkan. Hmmm lantas, kenapa masih saja aku terdiam? Apakah terlalu banyak aku memikirkan perintilan teknis yang sebenarnya tidak begitu dibutuhkan? Atau sudah tabiat diriku malas mengerjakan sesuatu yang menghasilkan? Baiklah... Yuk Asih, mulai lagi membenahi diri satu per satu. Tidak perlu banyak berpikir. Cukup kerjakan. Kerjakan saja.

Hubby, I Miss You...

Hujan. Pun di sore menjelang malam ini, seperti hari-hari sebelumnya. Aku hanya termenung. Hujan membuatku ingin mengingat banyak hal, merasakan kembali adegan lampau yang sempat memberingus sisi manusiawiku. Tetapi nyaris kutepis lagi. Bagaimana entah, aku malu. Dahulu jika kuingat, gambaranku tak jauh dari figur seorang pemarah. Aku mencintai kebabasan, juga berkawan, tetapi hanya untuk orang-orang tertentu. Selebihnya, orang lain mungkin lebih layak menilai. Kini, aku merasakan kenyamanan. Aku senang memberikan simpul senyum di sudut bibirku. Aku bahagia menjadi seseorang yang mampu mengalah. Aku bahagia memberikan kepercayaan penuh kepada seseorang di sisiku. Oh Tuhan, betapa indah Engkau menciptakan rasa cinta di antara sepasang manusia... Hujan, padamu yang dititipkan keberkahan, juga kutitipkan rindu. Dia yang selalu menjadi sandaran, menjadi tempatku berkeluh kesah, yang mampu membuat jantung ini berdebar, semoga senantiasa berada dalam lindungan-Nya. Hubby, lelaki tertamp...
Sayang, siang sungguh terik. Dari sudut jendela ini, kulihat jalanan memuai. Dedaunan layu. Debu bergulung-gulung terbang sesuai arah angin. Ah, air kelapa mungkin akan sedikit meninggalkan rasa segar di tenggorokan. Sayang, kau masih saja menutup mata sejak pukul 2 tadi. Merebahkan diri di antara gemerisik gorden dan panasnya ruang ini, mengabaikan selimut tebal yang kini tersampir di balik punggungmu. Kelopak matamu sayu. Kau nampak lelah, terkungkung oleh pegal yang menyiksa sejak kemarin sore. Sedang aku disini. Masih dan akan tetap menatapmu sampai kau membuka mata. Terbuai oleh kenikmatan menatap lekat wajahmu yang teduh, yang mampu menggetarkan hati dan menggenapkan rasa. Oh Tuhan, betapa besar Engkau memberi keridhaan pada sepasang manusia yang sedang membangun cinta ini...
Suara saya mulai serak. Setiap kali berbicara rasanya lebih melelahkan dibanding menyapu dan mengepel rumah. Mungkin ini juga patut disyukuri, sebab karenanya saya mulai mengurangi kebiasaan saya menyanyi keras-keras hehe. Masya Allah, hikmah Allah itu banyak sekali. Sayang, adakalanya saya membayangkan diri saya sedang duduk di atas batu besar. Di hadapan saya hamparan laut luas membentang. Di bawah saya nampak bukit-bukit kehijauan, juga bunga-bunga yang mekar beragam warna. Angin sepoi mendorong dan menarik kerudung saya. Dari jauh, saya bisa mendengar suara alam bergemerisik, terutama burung-burung kecil yang saling sahut bernyanyi. Kini ketika sakit, bayangan itu lebih sering muncul. Bukan apa, sekadar untuk memotivasi diri agar segera sembuh. Dan ketika sembuh nanti, insya Allah, saya akan benar-benar berada di tempat seperti itu. Mungkin di Lombok? Bali? :D

Sakit Membuat Belajar

Terkadang, kesembuhan bukan didapatkan dari seberapa banyak obat yang telah kamu minum, melainkan dari seberapa besar tekadmu untuk sembuh serta seberapa luas kamu membuka pikiranmu. Saya mengalaminya baru-baru ini. Tepatnya selama 2 pekan lalu, ketika saya sakit dan kondisi sembuh tak urung didapat. Saya telah mendatangi 2 dokter di 2 rumah sakit berbeda, mencoba berbagai resep, meminum berbagai obat alternatif. Tetap saja, qadarullah, hasilnya nihil. Justru, bagaimana entah saya merasa semakin tidak nyaman dengan tubuh saya sendiri. Ditambah, kondisi psikis juga turut campur aduk seiring perubahan suhu badan saya. Pernah beberapa kali, saya tiba-tiba membentak adik saya hanya karena masalah kecil, atau juga ngambek kepada suami saya hanya karena dia terlihat asik main games di handphone. Padahal jika dipikir lagi, betapa baiknya adik saya. Selama saya sakit, dia selalu berinisiatif memotong buah dan menyajikan susu atau madu untuk kakaknya ini. Soal makan, dia tidak pernah nek...
Saya teringat seorang kawan. Kami sering menghabiskan waktu berdua, sekadar bersender di punggung masing-masing sambil membaca, atau berceloteh mengenai sejarah para Sahabat di masa kejayaan Islam dahulu. Pernah pada suatu hari, saya bertanya dengan santai padanya, "Aku tahu nilai akademikmu tinggi, kenapa kamu tidak berusaha meniti karir yang bagus di luar Bandung?". Dia, yang tak perlu saya sebutkan namanya, memang sering membuat saya merasa heran. Dia ini tak pernah neko-neko soal pekerjaan. Saya sering melihatnya hilir mudik di tempat kerja, begitupun di waktu libur masih dia habiskan untuk bekerja, padahal upah yang dia dapat sangat jauh dari kata layak menurut saya. Bahkan belakangan saya tahu, beberapa kali dia mengeluarkan uang dari dompet pribadi untuk membeli perlengkapan kerja yang terkadang tidak disediakan di kantornya. Pada saat itu, saya merasa bahwa saya berkewajiban menumbuhkan mimpi dalam dirinya. Dia punya potensi besar, maka dia harus mencari lingkungan...